metodologi al-Qur’an

  1. 1. PENDAHULUAN
  2. A. Latar Belakang

Perlunya al-Qur’an itu ditafsirkan karena pada hakekatnya al-Qur’an itu merupakan kalam Allah dan substansi dari al-Qur’an itu sendiri masih bersifat global sehingga belum adanya terlihat spesifikasi yang lebih jelas. Jika kita memaknai Al-Qur’an apa adanya (letter leq) niscaya kita akan mengalami kesulitan dalam memaknainya, Oleh karena itu para ulama menyepakati bahwa perlunya suatu metode dalam menafsirkan al-Qur’an agar kita dengan mudah memaknai substansi dan kandungan-kandungan ayat dari kalam Allah tersebut.

Adapun syarat- syarat seseorang boleh menafsirkan al-Qur’an yakni utamanya harus mampu menguasai ilmu ilat yakni tentang bahasa arab misalnya seseorang tersebut harus mengetahui nahwu, sorof, asbabun Nuzul yakni sebab-sebab turunnya al-Qur’an secara menyeluruh, manteq dan balagoh yakni tentang sastra arab, majas-majas dan harus mengetahui nasikh-mansukh yaitu hubungan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya yang terdapat dalam al-Qur’an. Jika syarat-syarat tersebut telah di penuhi niscaya akan dengan mudah mengetahui makna-makna yang belum di spesifikasikan sebelumnya dalam al-Qur’an.

 

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dari metode tafsir?
    2. Apa saja macam-macam metode tafsir?
    3. Siapa sajakah tokoh-tokoh peletak dasar metode tafsir?

  1. C. Tujuan Pembahasan
    1. Mengetahui pengertian dari metode tafsir
    2. Mengetahui macam-macam metode tafsir
    3. Mengetahui siapa saja tokoh-tokoh peletak dasar metode tafsir

  1. 2. PEMBAHASAN
  2. A. Pengertian Metode Tafsir

Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani methodos, yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Arab kata tersebut diterjemahkan dengan thariqah atau manhaj, yang kemudian dalam bahasa indonesia mengandung arti “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai suatu yang ditentukan”. Jadi dapat dikatakan metode adalah salah satu sarana yang amat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam kaitannya dengan penafsiran Al-Qur’an maka metode ini bisa dipahami sebagai suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi saw. Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa metode tafsir Al-Qur’an tersebut berisikan seperangkat kaidah atau aturan yang harus diindahkan ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Apabila seseorang menafsirkan al-Qur’an dengan tidak mempunyai pengetahuan tentang metode-metode penafsiran Al-Qur’an maka penafsirannya bisa keliru (Ibn Taymiyah, 1971:105) karena Al-Qur’an bersumber dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan adanya metode penafsiran Al-Qur’an dapat di minimalisir kekeliruan dalam pemaknaan Al-Qur’an. Pengertian metodologi adalah ilmu tentang metode menafsirkan Al-Qur’an. Dengan demikian, dua pengertian tersebut (metode dan metodologi) dapat dibedakan, yaitu metode tafsir adalah cara-cara menafsirkan Al-Qur’an, sementara metodologi tafsir adalah ilmu tentang cara tersebut.[1]

 

  1. B. Macam-Macam Metode Tafsir
    1. a. Tafsir Tahlili
      1. Pengertian

Tafsir tahlili adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Qur’an yang tercantum di dalam mushaf, atau suatu metode penafsiran al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut.

Dalam metode ini, segala sesuatu yang dianggap perlu oleh seorang mufassir tahlili di uraikan, baik bermula dari penjelasan makna lafazh-lafazh tertentu, ayat per-ayat, surat persurat, susunan kalimat, persesuaian kalimat yang satu denagan yang lain, Asbab al-Nuzul, hadits yang berkenaan dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dan lain-lain.[2]

  1. Ciri-ciri

Penafsiran yang mengikuti metode ini bisa mengambil bentuk Ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). Dalam penafsiran tersebut, al-Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan Asbab al-Nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Kemudian di ungkapkan pula penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh Nabi saw, sahabat, tabi’in, tabi’tabi’in, dan para ahli tafsir lainnya dari berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, fiqh, bahasa, sastra dan lain sebagainya. Selain itu juga dijelaskan munasabah (kaitan) antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Ciri lain dari metode ini, penafsirannya diwarnai oleh kecenderungan dan keahlian mufassirnya seperti fiqh, sufi, falsafi, ilmi, adabi ijtima’i dan lain-lain. Penafsiran kosa kata juga mendapatkan perhatian yang besar dalam metode ini.

  1. Kelebihan

Pertama, tafsir dengan metode analisis ini mempunyai ruang lingkup yang amat luas, sehingga dapat dipergunakan oleh mufassir dalam dua bentuk yaitu: matsur dan ra’y. Bentuk ra’y dapat dikembangkan lagi dalam berbagai corak penafsiran sesuai dengan keahlian masing-masing mufassir.

Kedua, Para penafsir tahlili ini mempunyai peluang yang luas untuk menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam menafsirkan ayat al-Qur’an. Karena mufassir mempunyai kebebasan dalam menuangkan idenya, maka tafsir analisis ini lebih pesat perkembangannya dibandingkan tafsir ijmali.[3]

  1. Kelemahan

Walaupun tafsir tahlili ini dinilai sangat luas garapannya, tapi menurut para mufassir kontemporer, ia tidak mampu menyelesaikan satu pokok bahasan secra koprehensif ,  karena sering sekali satu sisi pokok bahasan diuraikan sedangkan sisi lainnya pada ayat lain.

Sehingga wajar adanya ketika tafsir dengan metode tahlili ini dianggap gagaloleh ulama Syi’ah Irak, Baqir al-Shadr, ia menyebut metode tafsir tahlili ini dengan metode  Tajzi’i. Karena metode tersebut di anggap telah menghasilkan pandangan-pandangan parsial serta kontradiktif dalam kehidupan umat islam. Dengan kata lain, para mufassir yang menggunakan metode ini tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil pembenaranpendapatnya dengan ayat-ayat al-Qur’an. Metode tahlili selain terasa sekali tidak banyak memberi pagar-pagar metodologis yang dapat mengurangi subjectivitas muffasirnya juga tidak mampu memberikan jawaban tuntas terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi, dan karena cara penafsirannya yang parsial, ia juga tak dapat menemukan substansi al-Qur’an yang integral/utuh.

Di samping itu, seorang pemikir al-Jazair kontemporer, Malik bin Nabi, menilai bahwa upaya para ulama untuk menafsirkan al-Qur’an dengan metode tafsir Tahlili menurutnya tidak lain kecuali dalam rangka upaya mereka untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemu’jizatan al-Qur’an.

Kelemahan lain yang dirasakan dalam tafsir-tafsir yang menggunakan metode ini dan yang perlu dicari penyebabnya adalah bahwa bahasan-bahasannya dirasakan sebagai pengikat bagi generasi berikutnya. Hal ini karena sifat penafsirannya sangat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada penafsiran persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat, sehingga uraian yang bersifat teoritis dan umum itu mengesankan bahwa itulah pandangan al-Qur’an untuk setiap waktu dan tempat.[4]

 

  1. b. Tafsir Ijmali
    1. Pengertian

Tafsir Ijmali adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan cara menjelaskan maksud al-Qur’an secara global, tidak terperinci seperti tafsir tahlili, atau menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas tapi mencakup, dengan bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan enak dibaca. Sistematika tulisannya menurut susunan ayat-ayat yang terdapat dalam mushhaf. Selain itu penyajiannya tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih mendengarkan al-Qur’an padahal yang didengarnya adalah tafsirannya.

Tafsir dengan metode ini ditetapkan secara khusus bagi orang awam agar mudah memahami maksud yang terkandung dalam al-Qur’an. Karena dengan metode tafsir ijmali, seorang mufassir berbicara kepada pembacanya dengan cara yang termudah, singkat, tidak berbelit-belit yang dapat menjelaskan arti suatu ayat sebatas artinya tanpa menyinggung hal-hal lain dari arti yang di kehendaki, dengan target pihak pembaca memahami kandungan pokok al-Qur’an.[5]

  1. Ciri-ciri

Penafsiran yang dilakukan terhadap ayat-ayat al-Qur’an, ayat demi ayat, surat demi surat, sesuai dengan urutan dalam mushhaf. Dan kadangkala mufassir menafsirkan al-Qur’an dengan lafazh al-Qur’an, sehingga membaca merasa bahwa uraian tafsirna tidak jauh dari konteks al-Qur’an dengan penyajiannya yang mudah dan indah.

  1. Kelebihan

Pertama, praktis dan mudah dipahami, tafsir ijmali ini tidak berbelit-belit , sehingga dapat segera diserap oleh pembacanya. Pola penafsiran seperti ini dapat memudahkan bagi pemuda atau bagi mereka yang baru belajar tafsir Al-Qur’an, dan bagi mereka yang ingin memperolh pemahaman Al-Qur’an dalam waktu yang singkat. Berdasarkan kondisi yang demikian, metode tafsir ijmali banyak disukai oleh umat dari berbagai strata social dan seluruh lapisan masyarakat.

Kedua, bebas dari penafsiran Isra’illiyat. Tafsir ijmali memberikan penafsiran yang singkat dan umum, sehingga rlatif lebih murni dan terbebas dari pemikiran –pemikiran Israilliyat. Dengan demikian pemahaman Al-Qu’an akan dapat dijaga dari interfensi pemikiran-pemikiran Isro’illiyyat yang kadang kala tidak jalan engan martabat Al-Qur’an. Dan meode ini jiga bias membendung pemahaman-pemahaman yang terlalu jauh dari Al-Qur’an.

Ketiga, akrab dengan bahasa Al-Qur’an salah satu ciiri dari penafsiran dengn metode tafsir ijmali adalah cara menyampaikan penafsirannya amat singkay dan padat bahasanya yang tidak jauh dari bahasa Al-Qur’an karena tidak emngmukakan ide-ide atau pendaptnya secara pribadi, sehingga pembaca terlena ia tidak merasakan telah membaca tafsir, padahal yang dibacanya kitab tafsir.

  1. Kelemahan

Pertama, menjadikan petunjuk al-Qur’an bersifat parsial. Ayat-ayat al-Qur’an kesemuanya merupakan kesatuan yang utuh, tidak bias dipisah-pisahkan. Seringkali suatu ayat masih bersifat samar-samar, maka jawaban atas ayat tersebut terdapat pada ayat yang lain. Karena sifat penafsirannya yang global dan ringkas, maka metode ini tidak bisa memberikan pemahaman yang jelas bagi pembacanya, sehingga tidak cukup member mengantar pembaca untuk  mendialogkan al-Qur’an dengan persoalan social maupun problem keilmuan yang actual dan problematis.

Kedua, tidak ada ruangan untuk mengemukan analisis yang memadahi. Tafsir dengan metode Ijmali, tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada mufassirnya untuk menuangkan ide atau analisisnya dalam menafsirkan al-Qur’an. Oleh karena itu, jika menginginkan adanya analisis yang rinci, penafsirkan dengan memakai metode Ijmali tidak dapat diandalkan.[6]

 

  1. c. Tafsir Muqaran
    1. Pengertian

Dari literature yang ada, bahwa pengertian metode tafsir Muqaran adalah: 1) membandingkan teks (nasb) ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan atau kemiripan redaksi dalam dua kasus atau lebih, dan atau memiliki redaksi berbeda bagi satu kasus yang sama. 2) membandingkan aya tal-Qur’an dengan hadits yang pada lahirnya terlihat bertentangan. Dan 3) membandingkan berbagai pendapat ulama’tafsir di dalam menafsirkan al-Qur’an (Baidan 1998:65).

Definisi di atas menunjukkan bahwa, penafsiran al-Qur’an dengan metode ini memiliki cakupan yang amat luas, tidak hanya membandingkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits, tetapi juga membandingkan pendapat para mufassir dalam menafsirkan ayat. Kalimat dari ketiga aspek di atas masing-masing juga berbeda. Wilayah bahasan dari aspek pertama dan kedua adalah kajian terhadap redaksi dan kaitannya dengan konotasi kata atau kalimat yang dikandungnya. Wilayah ini mencangkup masalah perbandingan ayat dengan ayat yang tidak hanya terbatas pada analisis redaksional saja, melainkan juga mencangkup perbandingan antara kandungan makna dari masing-masing ayat yang di perbandingkan.

Sedangkan aspek ketiga tentang perbandingan pendapat para mufassir juga mencangkup kajian yang sangat luas, yaitu masalah kandungan ayat, kemudian korelasi antara ayat dengan ayat, surat dengan surat, dll.

Dalam membahas perbedan-perbedaan tersebut, seorang mufassir berusaha menganalisis kecenderungan masing-masing penafsir sehingga penyebabkan terjadinya perbedaan dalam penafsir, mulai dari Asbab al Nuzul pemakaian kata dan susunannya yang berlain, juga konteks masing-masing ayat serta situasi dan kondisi umat ketika ayat itu diturunkan.

Dari analisis ini, akan diketahui diantara mufassir  itu yang penafsirannya dipengaruhi oleh perbedaan madzhab dan bertendensi untuk untuk memperkuat madzab. Kemudian juga akan diketahui siapa saja akan diketahui siapa saja mufassir yang dipengaruhi oleh keilmuannya.

  1. Ciri-ciri

Membandingkan pendapat para tafsir dalam menafsirkan ayat dengan ayat, atau ayat dengan hadits, baik mereka termasuk ulama salaf ataupun ulama hadits yang metode dan kecenderungan mereka berbeda-beda, baik penafsiran mereka yang berdasarkan riwayat yang bersumber dari Rasulullah saw, sahabat atau tabi’in. Menjelaskan siapa diantara mereka yang penafsirannya dipengaruhi oleh perbedaan mazhab, atau siapa di antara mereka yang penafsirannya ditujukan untuk melegitimasi suatu golongan tertentu dan mendukung aliran tertentu dalam islam.

Mufassir dengan metode ini dituntut untuk mampu menganalisis pendapat-pendapat para ulama tafsir yang mereka kemukakan untuk kemudian mengambil sikap untuk menerima penafsiran yang dinilai benar dan menolak penafsiran yang tidak diterima oleh rasionya serta menjelaskan kepada pembaca alas an dari sikap yang diambilnya, sehingga pembaca merasa puas.[7]

  1. Kelemahan

a)      Dapat memusatkan perhatian dalam penggalian hikma dibalik redaksi ayat untuk kasus yang sama dan memilih redaksi yang mmirip untuk kasus yang berbeda. Dengan begitu, metode ini dapat menguras isi kandungan al-Qur’an, membuktikan komposisi ayat al-Qur’an yang tidak sembarang apalagi saling bertentangan, sekaligus mndemotrsikan kemu’jizatan al-Qur’an.

b)      Mengaitkan hubungan al-Qur’an dengan hadits yang dibandingkannya.

c)      Mengetahui orisinalitas penafsiran seorang mufassir. Serta dimungkinkan mufassir pendatang meminjam penafsiran pendahulunya serta dapat mengungkap kecenderungan mufassir, kekeliruan dan mencari pendapat yang lebih benat dengan jalan tarjib (memilih yang terbaik dan terkuat) dapat mengungkap sumber sumber perbedaan pendapat dikalangan mufasir, dapat dijadikan sebagai sarana pengkompromian aliran ulama tafsir, dan dapat memperoleh pemahaman yang lebih lengkap mengenai kandungan al-Qur’an.

  1. Kelemahan

a)      Metode tafsir Muqaran tidak diberikan kepada pemula.

b)      Kurang dapat diandalkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan social yang tumbuh di dalam masyarakat, karena metode ini lebih mengutamakan perbandingan pendapat ulama tafsir daripada memecahkan problema yang ada dalam masyarakat.

c)      Terkesan lebih mengutamakanpenafsiran-penafsiran ulama terdahulu daripada mengemukakan penafsiran-penafsiran yang baru.

 

  1. d. Tafsir Mawdlu’i
    1. Pengertian

Metode  tafsir Mawdlu’i/tematik adalah suatu metode  penafsiran al-Qur’an di mana seorang mufassir mengkaji al-Qur’an sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan dalam al-Qu’an, baik yang terkaitan dengan doctrinal kehidupan, sosiologi, ataupun kosmologi.(Muhaimin. 1994:120). Dalam metode ini, semua ayat yang berkaitan, dihimpun, kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek yang terkait dengannya. Semua dikaji secara rinci dan tuntas, serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

 

  1. Ciri-ciri

Sesuai dengan namanya, maka yang menjadi ciri utama dari metode ini ialah penonjolan tema, judul atau topic pembahasan, bahwa metode ini juga disebut metode topikal.(Baidan, 1998: 152).

Tafsir Mawdlu’i mempunyai dua bentuk kajian yang menjadi ciri utamanya: Pertama, pembahasan mengenai satu surat menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan rekolasi antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. Kedua, menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu; ayat-ayat tersebur disusun sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu tema bahasan, selanjutnya ditafsirkan secara Mawdlu’.

Kemudian untuk cara kerjanya (yang menjadi cirri khas metode ini) Abd al-Farmawi (1977: 52):

a)      Menetapkan masalah/tema yang akan dibahas.

b)      Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah tersebut.

c)      Menyusun runtutan ayat sesuai dengan masa turunnya.

d)     Memahami korelasi ayat-ayat tersebut dalam suratnya masing-masing.

e)      Menyusun pembahasan dalam rangka yang sempurna

f)       Melengkap pembahasan dengan hadits-hadits yang relevan dengan pokok pembahasan

g)      Mempelajari ayat-ayat tersebut secara keseluruhan dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang mempunyai pengertian yang sama, atau mengkompromasikan antara yang ‘amm dengan yang khash, yang mutlaq, yang muqayyad, atau yang lahirnya bertentangan, shingga kesemuanya bertemu dedalam satu muara tanpa perbedaan atau paksaan.[8]

  1. Kelebihan

a)      Merupakan cara yang paling efektif untuk mengkaji maksud ayat-ayat al-Qur’an secara utuh.

b)      Menjawab tantangan zaman. Hal ini dikarenakan ia membawa pembaca kepada petunjuk al-Qur’an. Dengan kata lain ia cepat menjawab persoalan hidup manusia secara konseptual dan praktis.

c)      Praktis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah yang timbul dalam masyarakat

d)     Dinamis dan selalu sesuai dengan tuntutan zaman. Karena penyampaiannya yang mudah dipahami dan utuh dalam menjawab setiap permasalahan, sehingga metode ini selalu actual, dan tidak pernah ketinggalan zaman.

  1. Kelemahan

a)      Memenggal ayat al-Qu’an. Yaitu hanya mengambil satu kasus satu ayat atau lebih yang didalamnya mengandung banyak permasalahan yang berbeda.

b)      Membatasi pemahaman ayat. Hal ini dikarenakan metode tafsir tematik ini menetapkan judul yang akan dibahas, sehingga pemahaman menjadi terbatas pada permasalahan yang dibahas tersebut. Akibatnya mufassir terikat oleh judul tersebut.[9]

 

  1. C. Tokoh peletak dasar metode tafsir
    1. 1. Ibnu Taimiyah

Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah. Dilahirkan di Harran, Kota di Syam pada tanggal 10 Rabi’ al-awwal 661 H. Beberapa tahun ia tinggal di Harran, pada tahun 667 H Ibnu Taimiyah bersama ayah dan dua saudaranya kemudian pindah ke Damaskus di bawah ancaman serangan Tartar. Tumbuh besar di Damaskus hingga mencapai puncak popularitas. Ia menggali pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu di zamannya. Ibnu al-Wardi mengungkapkan perjalanan studinya, “Setelah belajar menulis, berhitung dan menghafal Al-Qur’an, ia mempelajari fiqih dan menguasai nahwu. Ibnu Taimiyah kemudian serius mengkaji tafsir hingga mengungguli ulama lainnya. Di samping juga membidangi ushul fiqih.”

Dalam hal ini, sejarawan Kamaluddin bin al-Zamalkani berkisah tentang sosok Ibnu Taimiyah, “Bila ia ditanya tentang satu disiplin ilmu, pendengarannya kerap menyangka Ibnu Taimiyah hanya membidangi disiplin ilmu tersebut dan mengesankan tidak ada seorang pun yang lebih unggul darinya. Fuqaha meski dari aliran yang berbeda bila bersamanya akan mendapat banyak masukan baru yang tidak mereka ketahui sebelumnya.”

Pujian dan sanjungan, demikian juga dengan kritik dari masa ke masa banyak ditujukan padanya. Mereka yang fanatis hanya mengadopsi dan membenarkan pendapatnya. Sementara mereka yang kontra, memusuhi Ibnu Taimiyah semasa hidup dan sepeninggalnya. Mereka membenci Ibnu Taimiyah dan pendapat-pendapatnya. Berbeda dengan mereka yang mampu bersikap moderat dengan memosisikannya secara proporsional. Mengkaji pendapatnya dengan jujur dan mengkritisi kekeliruannya. Menyatakan kebenaran yang memang harus menyata. Mereka selalu akrab dengan kebenaran dan senantiasa mengupayakannya. Kemudian berjalan dengan menapaki kebenaran tersebut.[10]

 

Metodologi Tafsir Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah mengklasifikasikan tafsir ke dalam dua tipikal; tafsir naqli dan tafsir aqli. Tentang tafsir naqli, dirinya menegaskan bahwa nabi menafsirkan seluruh isi kandungan Al-Qur’an kepada sahabat-sahabatnya. Firman Allah, dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka (QS AL-Nahl (16:44). Demikian dengan sahabat yang kemudian menafsirkan Al-Qur’an kepada Tabi’in. Di samping itu, ibnu Taimiyah juga menyinggung sedikit beda pendapat di kalangan sahabat dalam penafsiran. Perbedaan yang lambat laun kemudian santer hingga menciptakan kondisi yang cenderung saling berseberangan.

Menurutnya, perbedaan penafsiran di kalangan salaf lebih merupakan perbedaan yang meragamkan dan bukan perbedaan yang mengkotak-kotakkan. Seumpama beda pendapat mereka dalam menafsirkan “al-Shirat al Mustaqim” yang menurut sebagian kalangan adalah Al-Qur’an. Sebagian yang lain berpendapat Islam. Kedua pendapat tersebut kenyataannya tidak bertentangan. Sebab agama islam merujuk pada Al-Qur’an. Namun masing-masing mereka menitikberatkan pada penyipatan yang berbeda.

Demikian dengan pendapat yang menyebutkan bahwa tafsir “al-Shirat al-Mustaqim” adalah ahluh sunnah wa al-jama’ah, atau jalan penghambaan, atau loyal kepada Allah dan Rasul dan/atau pendapat-pendapat lainnya. Semuanya menyiratkan pada esensi yang satu, yaitu perujukan terhadap Al-Qur’an. Meski masing-masing menyebutkan salah satu dari sekian banyak karakternya.

Masih menurut Ibnu Taimiyah bahwa tidak seorang ulama pun yang dapat menyempitkan makna kata yang umum dalam Al-Qur’an karena sebab peristiwa tertentu yang terjadi. Perbedaannya hanya terletak pada penyempitan makna kata sebab keragaman latar belakang dan semisalnya atau pada keumuman makna yang dikandung kata tersebut.

Sebutlah seumpama firman Allah, Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka yang menurut apa yang diturunkan Allah (QS Al-Maidah (5):49). Ayat ini diturunkan pada Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Jelas didapati kandungan makna yang umum dan bukan khusus. Kemudian apakah firman ini hanya mencakup kondisi yang sama dengan sebab turunnya ayat? Ataukah mengumumi setiap putusan dan seluruh mereka yang memiliki kewenangan dalam memutuskan dari zaman ke zaman?

Tentu tidak seorang pun yang mengkadaluarsakan ayat ini dan tidak lagi didapati kesamaan sebab turun ayat, yaitu Bani Quraizhah dan Bani Nadhir. Di samping waktu turun ayat yang telah berlalu. Ibnu Taimiyah juga menyinggung penyimpangan yang dilakukan banyak mufassir terhadap permasalahan yang sama sekali tidak penting dan tidak di dukung alasan yang shahih. Seumpama perdebatan mereka menyoal tentang warna anjing Ashab al-Kahfi, ukuran kapal Nabi Nuh, jenis kayu yang digunakannya dan kasus-kasus yang remeh lainnya.

Dalam hal ini, ia menjelaskan bahwa kasus semisal dapat diamini bila ditemukan rujukan yang valid dari nabi. Seperti nama sahabat nabi Musa adalah Khidir.  Ketika ia didapati rujukan yang pasti dari nabi, kita tentu menolak pendapat yang jelas-jelas merupakan kebohongan dan tidak meributkan pendapat yang bersumber dari ahli kitab sebab sabda Nabi, “Jangan benarkan Ahli Kitab dan jangan dustakan mereka. Katakan kami beriman dengan yang diturunkan kepada kami dan kalian. Tuhan kami dan Tuhan kalian adalah satu. Dan kami berpasrah kepada-Nya.”

Kemudian Ibnu Taimiyah membahas tafsir aqli yang merupakan klasifikasi kedua dari tafsir Al-Qur’an. “Terdapat sedikitnya dua bentuk kesalahan yang sering terjadi dalam tafsir aqli:

  1. Mereka yang meyakini makna-makna tertentu kemudian bermaksud mencari legitimasi dari Al-Qur’an terhadap makna-makna tersebut dengan tanpa mempertimbangkan penunjukan dan keterangan yang berhubungan dengan Al-Qur’an. Acuh dengan sebab turun ayat, nasikh mansukh dan informasi nabi berkaiatan dengan banyak ayat.
  2. Mereka yang menafsirkan Al-Qur’an dengan hanya menyoroti sisi kebahasaan. Menafikan Allah yang menurunkan Al-Qur’an, Muhammad yang kepadanya diturunkan Al-Qur’an dan lawan bicara Al-Qur’an. Mereka hanya berkutat pada tataran bahasa dan tidak memperhatikan tataran-tataran lain.”

Ibnu Taimiyah berpendapat, keduanya jelas-jelas keliru, Menurutnya tafsir terbaik adalah ketika menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri. Bila tidak memungkinkan, Sunnah kemudian lebih berhak memberikan penafsiran terhadap Al-Qur’an. Sebab, Sunnah merupakan penjelas bagi Al-Qur’an.[11]

Jika tidak didapati penafsiran para sahabat, Kesepakatan tabi’in merupakan pilihan berikutnya. Kemudian riwayat komunitas Tabi’in. Ijtihad yang merupakan hasil proses berpikir tentunya dengan memperhatikan metodologi yang legal adalah alternatif terakhir.

Metodologi yang digagas Ibnu Taimiyah ini, tidak dapat di bantah merupakan metodologi salaf. Namun kenyataannya, Ibnu Taimiyah beberapa kali menyimpang dari metodologi tersebut. Seperti saat di tanya tentang firman, Sesudah itu ditentukan ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ditentukan (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya) (QS Al-An’am (6:2). Kemudian dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab Lauh Mahfuz) (QS Fathir (35):11). Dan, Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan sisi-Nya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuz) (QS Al-Ra’d) (13):39). Ditanya adakah penghapusan dan penetapan di Lauh Mahfuz dan Kitab yang disebutkan dalam hadis shahih, “Sungguh Allah menetapkan keputusan yang telah ditetapkan dalam catatan yang berada di Arsy-Nya.” Sementara riwayat lain menyebutkan, “Qalam telah kering.” Kemudian lalu apakah yang dimaksud dengan penetapan dan penghapusan?

Bolehkah mengucapkan doa dengan, Ya Allah bila engkau telah menulis suratan takdirku demikian, maka hapus dan ubahlah demikian. Sebab firman-Mu, Allah menghapuskan apa yang dia kehendaki dan menetapkan (Apa yang Dia kehendaki).

Seberapa kebenaran riwayat yang menyebutkan bahwa Umar pernah memohon dengan doa semisal?

Bagaimana pendapat anda tentang umur yang bertambah sebab silaturrahmi seperti disebutkan hadis?

Ibnu Taimiyah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan “Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam. Adapun tentang firman, sesudah itu ditentukan ajal (untuk berbangkit) yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya) (QS Al-An’am (6:2). Ajal yang pertama yang dimaksud adalah ajal setiap hamba dengan  berakhirnya masa hidup di dunia. Sedang ajal yang ditentukan yang ada pada sisi-Nya adalah waktu terjadinya hari kiamat. Sebab itu Allah berfirman, yang ada pada sisi-Nya. Karena waktu kiamat tidak diketahui oleh seorang malaikat dan Nabi. Firman Allah , mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat:

“Bilakah terjadinya”.  Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia (QS Al-A’raf (7):187). Berbeda bila Allah hanya menyebutkan “yang ditentukan.”

 

  1. 2. Al-Naisaburi

Ia adalah imam besar dan ulama terkemuka. Nama lengkapnya  Nizhamuddin al-Hasan bin Muhammad bin Al-Husin al-Khurasani al-Naisaburi. Ia lahir di Naisabur dan bermukim di Kota Qum. Ia terus tumbuh dan besar di wilayah Naisabur. Al-Naisaburi menguasai disiplin ilmu aqli dan naqli; memahami bahasa arab dan memiliki kemampuan pengungkapan yang artikulatif; mengerti tentang takwil, tafsir dan qiraat; Di samping wawasan keilmuan yang luas, kewaraan dan ketakwaan. Selebihnya Naisaburi juga dikenal sebagai ulama yang banyak tahu tentang tasawuf dan ilmu-ilmu isyarat (pertanda).

Karya-karyanya sangat bermanfaat dan mampu mempengaruhi banyak orang. Tercatat tiga buku dalam bidang tafsir; Kabir, Mutawassith dan Mujiz. Kemudian Tabir al-Tahrir Syarh Tahrir al-Justhi karya al-thus, Taudhih al-Tadzkirah al-Nashiriyah fi Al-Haiah. Tidak termasuk buku-bukunya  yang membincangkan masalah waqaf-waqaf dalam Al-Qur’an.[12]

 

Tafsir al-Naisaburi

Diantara karya besar Naisaburi adalah tafsir Gharaib Al-Qur’an dan Raghaib Al-Furqan. Keinginan untuk memudahkan mereka yang hendak mempelajari, memahami dan mengungkap banyak rahasia Al-Qur’an merupakan latar belakang penulisan buku ini. Alasan ini dikemukakan Naisaburi , “Kemudian Allah memberikan petunjuk kepadaku  untuk menulis dalam berbagai disiplin ilmu, baik aqli maupun naqli. Seperti telah diketahui oleh banyak orang. Ilmu tafsir adalah salah satu diantara sekian disiplin ilmu yang keberadaannya tidak beda dengan mata yang dipunyai manusia. Allah telah menganugerahkan kepadaku kemampuan menghafal dan memahami kandungan Al-Qur’an kala masih belia.

Selanjutnya Naisaburi menyebut rujukan penting tafsir karenanya, “Kenyataan bahwa tafsir al-Kabir  karya Muhammad bin Umar bin Al-Husin al-Khatib al-Razi semoga Allah mencurahkan keridaan dan menempatkannya di surga-Nya merpakan tafsir yang penamaannya sangat tepat dengan isi kandungannya. Di dalamnya ditemukan begitu banyaj khazanah, kajian, suplemen dan pengetahuan. Al-Razi telah memaksimalkan usaha dan mengerahkan seluruh kemampuannya. Namun pada gilirannya justru menyulitkan pembaca tafsirnya. Kemudian aku mengharap seperti harapannya, yaitu memaparkan konklusinya dan melakukan pendekatan dengan metodologi yang digunakan ulama sebelum al-Razi; memilah-milah tatanan yang tertata tanpa harus menafikan esensi estetis dan membuangkan poin-poin penting yang memang niscaya ada; memuat hasil temuan penting yang aku jumpai dalam tafsir al-Kassyaf dan banyak tafsir lainnya.

Allah kemudian memberikan karunia berupa keluasan wawasan, pembacaan serius, kontemplasi interaktif dan penafsiran yang menyoroti bahasan kata dan makna. Di samping perbaikan bagian yang memang harus diperbaiki dan penyempurnaan bagian yang memang harus disempurnakan berkenaan dengan banyak polemik dan perdebatan yang kerap ditemukan dalam tafsir al-Kabir.[13]

Metodologi Tafsir al-Naisaburi

Tentang metodologi tafsirnya, Naisaburi menuturkan, “Awalnya aku menyebutkan kata dalam Al-Qur’an berikut terjemahnya dengan gaya bahasa yang retorik; menegaskan pentakdiran dan mengunkap kata ganti yang samara; menakwilkan makna yang kabur (al-muthasyabihat); melugaskan bahasa al-Kinayah, majas dan metafora (al-isti’arah).Gaya terjemah seperti ini memang banyak memberikan masukan pengetahuan.

Namun tidak sedikit penerjemah yang keliru dalam melakukan penerjemahan. Hal ini tidak banyak diketahui oleh mereka yang baru mempelajari dasar bahasa Arab. Terlebih mereka yang asing dan tidak memahami kesusastraan. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk menyederhanakannya hingga mudah dicerna;  mendekatkan semua tingkat kemampuan intelektual dalam neraca yang paripurna. Dengan harapan buku ini tidak ubahnya bulan purnama. Laksana matahari yang menyinari semua masyarakat, baik kalangan elite maupun kalangan awam; tidak berbelit hingga membosankan dan tidak terlalu ringkas  kemudian menjadi buram. Sebab ungkapan yang sederhana tetapi mampu menunjuki sungguh jauh lebih baik. Cukuplah bekal untuk sampai ke tujuan.”

Dalam pengantarnya, Naisaburi menulis mukaddimah-mukaddimah penting tafsirnya, sebagai berikut :

Mukaddimah I tentang keutamaan membaca, pembaca dan etika membaca al-Qur’an. Di samping legitimasi perbedaan dalam qiraat dan sekelumit tentang pembaca kenamaan yang banyak menjadi rujukan.

Mukaddimah II menyoal tentang isti’adzah (melafalkan A’udzu billahimin al-Syathan al-Rajim) yang disunnahkan. Seperti ditegaskan ayat, Apabila kamu membaca Alquran, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk(QS Al-Nahl{16}:98)

Mukaddimah III membincangkan masalah-masalah penting berkenaan ketidakerputusan riwayat qiraat tujuh dan perihal turunya Alquran dengan tujuh huruf.

Mukaddimah IV tentang cara pengunmula Alquran.

Mukaddimah X membicarakan makna al-Mushaf, al-Kitab, Alquran, al-Surah, al-Ayat, al-Kalimat,dll.

Mukaddimah VI menyebutkan tentang al-Sab’ al-Thuwal, al-Matsani, al-Musabbahat, dll.

Mukaddimah VII tentang huruf-huruf yang ditulis beda dalam mushaf, meski kenyataannya tidak berbeda.

Mukaddimah VIII tentang pembagian wakaf.

Mukaddimah IX tentang klasifikasi tema-tema penting

Mukaddimah X merupakan penegasan kekadiman dan ketidak kadiman kalam allah

Mukaddimah XI tentnag cara konklusi berbagai masalah dari sedikit ungkapan

Naisaburi kemudian memulai proyek tafsirnya seperti telah disinggung dalam mukaddiah. Diawali dengan mengelompokka ayat-ayat tertentu. Selanjutnya menyual tentang qiraat dan waqaf. Setelah itu, naisaburi mullai melakukan penafsiran ynag kerap dikomentari dengantakwil.

Seumpama ketika menafsirkan firman Allah, Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah aku anugrahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya aku telah melebihkan kamu atas segala umat. Dan jagalah dirimu dari (adab) hari (kiamat yang ada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walu sedikitpun; dan (begitu pula)  tidak diterima syafaat dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka ditolong. (QS Al- Baqarah: 48)

Qiraat

Wala Taqbalu dengan menggunakan al- ta’: Merupakan Qiraat Ibnu Katsir, Abu Amar, Sahl dan Ya’qub

Waqaf

Al-‘Alamin adalah akhir ayat

Yunsorun adalah akhir ayat.[14]

Tafsir

“ pernyataan ini kembali dikemukakan Allah sebagai pnegasan alasa dan wanti-wanti terhadap mereka yang tidak mengikuti Muhammad. Seakan Allah berfirman, “ Sekiranya kalin tidak mematuhiku sebab nikmat yang telah Aku anugrahkan, maka patuhilah aku karena takut adzabku dikemudian hari.”

Maksud ”Al-‘Alamin” dalam ayat ini adalah sekelompok besar manusia. Seperti fiman Allah, kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia (QS. Al-Anbiya:71)

Sangat mugkin Al-Alamin “ dimaksut bahwa aku telah melebhkan kamu atas segala umat dizaman mu. Sebab manusia yang hidup paska mereka tidak termasuk dalam kata “Al-Alamin”. Kemungkinan lain kata “Al-Alamin” lebih bersifat umum. Ditujukan kepada seluruh amakhluk yang telah ada dan akan ada namun absolute dalam keutamaan. Kebenaran absout cukup tampak dalam satu potret firman allah ”Sesungguhnya kami telah mengutus (Muhammad) dalam kebenaran : sebagai pembawa berita gembira dan pemberi perngatan dan kamu tidak akan diminta (pertangggungjawaban) tentang penghuni-penghunu neraka (QS. Al-Baqarah :119)

Qiraat

La tus’alu” merupakan bentuk nahi (larangan) seperti qiraat Nafi’ dan  Ya’qub sementara yang lain mendommahakan al-Ta’ dengan merofakkan allam dengan menjadikannya khbar.

Waqaf

“Wa Nadziran wa La” merupakan kata sambung. Yaitu pemberi peringatan dan tidak bertanggung jawab. Namun bukan merupakan kata sambung bagi mereka yang membacanya dalam bentuk nahi sebab perbedaan kedua kalimat.

“al-Jahim” merupakan akhir ayat.[15]

DAFTAR PUSTAKA

Mani’ Abd Halim Mahmud,2006. Metodologi Tafsir, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,

Saifullah, dkk. 2004.Ulumul Qur’an. Ponorogo: Prodikal Pratama Sejati (PPS) Press, 



[1] Saifullah, dkk.Ulumul Qur’an. (Ponorogo: Prodikal Pratama Sejati (PPS) Press, 2004) hlm.145

[2] Ibid.,146

[3] Ibid.,147

[4] Ibid.,148

[5] Ibid.,149

[6] Ibid.,150-151

[7] Ibid.,152-158

[8]Ibid.,156-157

[9] Ibid.,158

[10] Mani’ Abd Halim Mahmud, Metodologi Tafsir, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006) hlm.8-9

[11] Mani’ Abd Halim Mahmud.,Op.Cit.,hlm.12-14

[12] Mani’ Abd Halim Mahmud.,Op.Cit.,hlm.92

[13] Mani’ Abd Halim Mahmud.,Op.Cit.,hlm.93-94

[14] Mani’ Abd Halim Mahmud.,Op.Cit.,hlm.95-96

[15] Mani’ Abd Halim Mahmud.,Op.Cit.,hlm.96-97

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: