Posted by: ikaarosalina | December 3, 2010

makalah kuliah

  1. 1. PENDAHULUAN
  2. A. Latar Belakang

Perlunya al-Qur’an itu ditafsirkan karena pada hakekatnya al-Qur’an itu merupakan kalam Allah dan substansi dari al-Qur’an itu sendiri masih bersifat global sehingga belum adanya terlihat spesifikasi yang lebih jelas. Jika kita memaknai Al-Qur’an apa adanya (letter leq) niscaya kita akan mengalami kesulitan dalam memaknainya, Oleh karena itu para ulama menyepakati bahwa perlunya suatu metode dalam menafsirkan al-Qur’an agar kita dengan mudah memaknai substansi dan kandungan-kandungan ayat dari kalam Allah tersebut.

Adapun syarat- syarat seseorang boleh menafsirkan al-Qur’an yakni utamanya harus mampu menguasai ilmu ilat yakni tentang bahasa arab misalnya seseorang tersebut harus mengetahui nahwu, sorof, asbabun Nuzul yakni sebab-sebab turunnya al-Qur’an secara menyeluruh, manteq dan balagoh yakni tentang sastra arab, majas-majas dan harus mengetahui nasikh-mansukh yaitu hubungan ayat yang satu dengan ayat yang lainnya yang terdapat dalam al-Qur’an. Jika syarat-syarat tersebut telah di penuhi niscaya akan dengan mudah mengetahui makna-makna yang belum di spesifikasikan sebelumnya dalam al-Qur’an.

 

  1. B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian dari metode tafsir?
    2. Apa saja macam-macam metode tafsir?
    3. Siapa sajakah tokoh-tokoh peletak dasar metode tafsir?

  1. C. Tujuan Pembahasan
    1. Mengetahui pengertian dari metode tafsir
    2. Mengetahui macam-macam metode tafsir
    3. Mengetahui siapa saja tokoh-tokoh peletak dasar metode tafsir

  1. 2. PEMBAHASAN
  2. A. Pengertian Metode Tafsir

Kata “metode” berasal dari bahasa Yunani methodos, yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Arab kata tersebut diterjemahkan dengan thariqah atau manhaj, yang kemudian dalam bahasa indonesia mengandung arti “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai suatu yang ditentukan”. Jadi dapat dikatakan metode adalah salah satu sarana yang amat penting untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam kaitannya dengan penafsiran Al-Qur’an maka metode ini bisa dipahami sebagai suatu cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai pemahaman yang benar tentang apa yang dimaksudkan Allah di dalam ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi saw. Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita bahwa metode tafsir Al-Qur’an tersebut berisikan seperangkat kaidah atau aturan yang harus diindahkan ketika menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Apabila seseorang menafsirkan al-Qur’an dengan tidak mempunyai pengetahuan tentang metode-metode penafsiran Al-Qur’an maka penafsirannya bisa keliru (Ibn Taymiyah, 1971:105) karena Al-Qur’an bersumber dari Allah SWT. Oleh sebab itu dengan adanya metode penafsiran Al-Qur’an dapat di minimalisir kekeliruan dalam pemaknaan Al-Qur’an. Pengertian metodologi adalah ilmu tentang metode menafsirkan Al-Qur’an. Dengan demikian, dua pengertian tersebut (metode dan metodologi) dapat dibedakan, yaitu metode tafsir adalah cara-cara menafsirkan Al-Qur’an, sementara metodologi tafsir adalah ilmu tentang cara tersebut.[1]

 

  1. B. Macam-Macam Metode Tafsir
    1. a. Tafsir Tahlili
      1. Pengertian

Tafsir tahlili adalah suatu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai aspeknya dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat al-Qur’an yang tercantum di dalam mushaf, atau suatu metode penafsiran al-Qur’an dengan memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang ditafsirkan itu serta menerangkan makna-makna yang tercakup di dalamnya sesuai dengan keahlian dan kecenderungan mufassir yang menafsirkan ayat tersebut.

Dalam metode ini, segala sesuatu yang dianggap perlu oleh seorang mufassir tahlili di uraikan, baik bermula dari penjelasan makna lafazh-lafazh tertentu, ayat per-ayat, surat persurat, susunan kalimat, persesuaian kalimat yang satu denagan yang lain, Asbab al-Nuzul, hadits yang berkenaan dengan ayat-ayat yang ditafsirkan dan lain-lain.[2]

  1. Ciri-ciri

Penafsiran yang mengikuti metode ini bisa mengambil bentuk Ma’tsur (riwayat) atau ra’y (pemikiran). Dalam penafsiran tersebut, al-Qur’an ditafsirkan ayat demi ayat dan surat demi surat secara berurutan, serta tak ketinggalan menerangkan Asbab al-Nuzul dari ayat-ayat yang ditafsirkan. Kemudian di ungkapkan pula penafsiran-penafsiran yang pernah diberikan oleh Nabi saw, sahabat, tabi’in, tabi’tabi’in, dan para ahli tafsir lainnya dari berbagai disiplin ilmu, seperti teologi, fiqh, bahasa, sastra dan lain sebagainya. Selain itu juga dijelaskan munasabah (kaitan) antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya.

Ciri lain dari metode ini, penafsirannya diwarnai oleh kecenderungan dan keahlian mufassirnya seperti fiqh, sufi, falsafi, ilmi, adabi ijtima’i dan lain-lain. Penafsiran kosa kata juga mendapatkan perhatian yang besar dalam metode ini.

  1. Kelebihan

Pertama, tafsir dengan metode analisis ini mempunyai ruang lingkup yang amat luas, sehingga dapat dipergunakan oleh mufassir dalam dua bentuk yaitu: matsur dan ra’y. Bentuk ra’y dapat dikembangkan lagi dalam berbagai corak penafsiran sesuai dengan keahlian masing-masing mufassir.

Kedua, Para penafsir tahlili ini mempunyai peluang yang luas untuk menuangkan ide-ide dan gagasannya dalam menafsirkan ayat al-Qur’an. Karena mufassir mempunyai kebebasan dalam menuangkan idenya, maka tafsir analisis ini lebih pesat perkembangannya dibandingkan tafsir ijmali.[3]

  1. Kelemahan

Walaupun tafsir tahlili ini dinilai sangat luas garapannya, tapi menurut para mufassir kontemporer, ia tidak mampu menyelesaikan satu pokok bahasan secra koprehensif ,  karena sering sekali satu sisi pokok bahasan diuraikan sedangkan sisi lainnya pada ayat lain.

Sehingga wajar adanya ketika tafsir dengan metode tahlili ini dianggap gagaloleh ulama Syi’ah Irak, Baqir al-Shadr, ia menyebut metode tafsir tahlili ini dengan metode  Tajzi’i. Karena metode tersebut di anggap telah menghasilkan pandangan-pandangan parsial serta kontradiktif dalam kehidupan umat islam. Dengan kata lain, para mufassir yang menggunakan metode ini tidak jarang hanya berusaha menemukan dalil pembenaranpendapatnya dengan ayat-ayat al-Qur’an. Metode tahlili selain terasa sekali tidak banyak memberi pagar-pagar metodologis yang dapat mengurangi subjectivitas muffasirnya juga tidak mampu memberikan jawaban tuntas terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi, dan karena cara penafsirannya yang parsial, ia juga tak dapat menemukan substansi al-Qur’an yang integral/utuh.

Di samping itu, seorang pemikir al-Jazair kontemporer, Malik bin Nabi, menilai bahwa upaya para ulama untuk menafsirkan al-Qur’an dengan metode tafsir Tahlili menurutnya tidak lain kecuali dalam rangka upaya mereka untuk meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemu’jizatan al-Qur’an.

Kelemahan lain yang dirasakan dalam tafsir-tafsir yang menggunakan metode ini dan yang perlu dicari penyebabnya adalah bahwa bahasan-bahasannya dirasakan sebagai pengikat bagi generasi berikutnya. Hal ini karena sifat penafsirannya sangat teoritis, tidak sepenuhnya mengacu kepada penafsiran persoalan-persoalan khusus yang mereka alami dalam masyarakat, sehingga uraian yang bersifat teoritis dan umum itu mengesankan bahwa itulah pandangan al-Qur’an untuk setiap waktu dan tempat.[4] Read More…

Posted by: ikaarosalina | December 2, 2010

Narkoba

  1. A. PENDAHULUAN
    1. 1. Latar Belakang

Penggunaan sejenis narkoba di Indonesia. Jenis-jenis dari barang haram itu semakin banyak ragamnya, serta efek yang ditimbulkannya. Harganya kian murah, serta mudah memperolehnya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika penyalagunaan narkoba kini terjadi dimana-mana, bukan saja di kota-kota, tetapi juga sampai di desa-desa. Read More…

Posted by: ikaarosalina | November 24, 2010

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories